Inilah Alasan Banyak Instansi Mulai Mengadopsi Design Thinking untuk Sistem Loyalty

Banyak instansi kini beralih ke pendekatan design thinking untuk membangun sistem loyalty yang lebih relevan dan efektif. Artikel ini membahas mengapa metode ini mampu meningkatkan pemahaman pengguna, memperkuat engagement, dan menghasilkan solusi yang lebih tepat sasaran.

Wulan Oktaviana

12/1/20254 min read

User holding a small gift while accessing a digital loyalty platform.
User holding a small gift while accessing a digital loyalty platform.

Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak lembaga pendidikan, instansi pemerintah, dan perusahaan yang mulai membangun platform loyalti. Tujuannya tidak hanya meningkatkan engagement, tetapi juga menciptakan ekosistem digital yang lebih terukur, mulai dari program apresiasi pegawai, reward aktivitas siswa, hingga program insentif masyarakat.

Namun kenyataannya, mayoritas platform loyalti tidak memberikan dampak signifikan. Banyak fitur tidak digunakan, alur membingungkan, dan UI terlalu padat sehingga pengguna berhenti sebelum menyelesaikan satu interaksi pun. Masalah-masalah ini muncul bukan karena teknologinya kurang canggih, melainkan karena sistem dibangun tanpa memahami kebutuhan pengguna sebenarnya. Inilah alasan mengapa semakin banyak instansi mulai mengadopsi design thinking dan UX pilot. Dua metode ini memastikan platform loyalti tidak sekadar penuh fitur, tetapi benar-benar dipakai.

Mengapa Design Thinking Menjadi Prioritas Instansi untuk Sistem Loyalty

Design thinking bukan hanya metode desain. Ia adalah pendekatan strategis yang membuat tim memahami perilaku, kebutuhan, dan hambatan pengguna sejak fase paling awal. Untuk platform loyalti, ini krusial karena motivasi setiap segmen pengguna berbeda: siswa ingin reward yang jelas, pegawai ingin transparansi, masyarakat ingin kepraktisan.

Ketika design thinking diterapkan, tim tidak lagi mereka-reka apa yang dibutuhkan pengguna. Mereka berangkat dari data lapangan, observasi perilaku, dan percobaan cepat. Dampaknya? Alur lebih ringkas, tampilan lebih intuitif, dan pengguna lebih mau kembali menggunakan sistem. Empat masalah besar yang hampir selalu ditemukan di platform loyalti instansi adalah:

  • Navigasi membingungkan karena UI terlalu ramai.

  • Pengguna tidak memahami mekanisme pengumpulan poin.

  • Reward tidak relevan dengan kebutuhan pengguna.

  • Perjalanan pengguna terlalu panjang dan melelahkan.

Design thinking membantu memetakan akar masalah tersebut, lalu mengubahnya menjadi solusi berbasis pengalaman pengguna nyata.

Memetakan Masalah yang Menghambat Penggunaan

Pada tahap Empathize dan Define, tim menganalisis bagaimana pengguna berinteraksi dengan sistem. Pendekatan ini mengungkap beberapa hambatan utama:

  • Pengguna tidak memahami cara kerja poin atau reward.
    Banyak aplikasi gagal menjelaskan logika perolehan poin sehingga manfaatnya tidak terlihat.

  • Antarmuka terlalu padat dan tidak terstruktur.
    Terlalu banyak elemen visual muncul sekaligus, membuat pengguna kewalahan.

  • Reward tidak relevan dengan kebutuhan pengguna.
    Hadiah yang tidak sesuai kebutuhan siswa, ASN, atau masyarakat membuat program tidak menarik.

  • Perjalanan pengguna terlalu panjang dan melelahkan.
    Banyak langkah yang tidak perlu, halaman berlapis, dan input data berulang.

Dengan pemetaan ini, instansi dapat menghindari pembuatan fitur mubazir dan fokus pada kebutuhan inti pengguna.

Menghasilkan Solusi yang Teruji Sebelum Dibangun

Pada tahap Ideate dan Prototype, konsep diuji menggunakan UX pilot proses validasi cepat yang langsung memperlihatkan bagaimana pengguna berinteraksi dengan rancangan awal. Lewat metode ini, instansi dapat mengetahui apakah alur reward sudah mudah dipahami dalam hitungan detik, apakah pengguna bisa menyelesaikan proses tanpa instruksi tambahan, serta apakah informasi penting seperti benefit, poin, dan aturan tampil dengan jelas di layar pertama. UX pilot juga membantu menilai apakah langkah-langkah dalam alur dapat dipangkas sehingga tidak membuat pengguna berpindah layar terlalu banyak. Dengan cara ini, desain dapat dipastikan benar-benar matang sebelum masuk ke tahap development, sehingga risiko revisi besar di akhir proyek dapat ditekan secara signifikan.

Risiko Besar Jika Instansi Mengabaikan Design Thinking

Sistem loyalti yang dibangun tanpa pendekatan design thinking biasanya menimbulkan berbagai masalah operasional. Proyek sering memakan waktu lebih lama karena revisi mendadak, sementara biaya meningkat akibat UI yang harus diperbaiki berulang kali. Ketidakkonsistenan antarmuka juga kerap terjadi akibat perubahan tambal sulam, membuat stakeholder kesulitan memahami arah pengembangan. Pada akhirnya, pengguna merasa tidak mendapatkan manfaat yang dijanjikan sehingga tingkat penggunaan rendah dan data yang seharusnya menjadi dasar pengambilan keputusan pun tidak terkumpul dengan optimal. Tanpa data yang kuat, instansi kehilangan peluang besar untuk melakukan evaluasi berbasis insight.

Mengapa UX Pilot Kini Menjadi Standar Baru di Lembaga Publik

UX pilot kini banyak diadopsi oleh lembaga publik karena metode ini memberikan gambaran perilaku nyata dari pengguna seperti guru, siswa, ASN, atau masyarakat umum saat mencoba prototipe layaknya aplikasi sebenarnya. Melalui pendekatan ini, tim dapat mendeteksi bottleneck jauh lebih awal, melakukan perbaikan sebelum tahap development dimulai, serta mengontrol anggaran dengan lebih presisi. Hasil uji coba cepat ini tidak hanya membantu meningkatkan akurasi desain, tetapi juga mempercepat proses pengembangan secara keseluruhan. Tidak heran UX pilot mulai menjadi standar baru karena terbukti cepat, hemat biaya, dan sangat efektif untuk memastikan solusi benar-benar sesuai kebutuhan lapangan.

Dampak Design Thinking pada Sistem Loyalty

Jika design thinking diterapkan secara konsisten, hasilnya jauh lebih signifikan dibanding sekadar “perbaikan UI.” Beberapa peningkatan yang sering terjadi di instansi:

  • Tingkat penggunaan meningkat karena alur lebih ringkas.
    Pengguna merasa “nggak ribet,” sehingga mau kembali menggunakan platform.

  • Proses edukasi pengguna berkurang drastis.
    UI yang intuitif tidak perlu banyak penjelasan.

  • Revisi development jauh lebih sedikit.
    Karena alur diverifikasi terlebih dahulu melalui UX pilot.

  • Biaya operasional dan waktu implementasi berkurang.
    Teknologi digunakan secara efisien, bukan asal bangun fitur.

Ketika pendekatan design thinking diterapkan dengan disiplin, transformasi yang terjadi pada platform loyalti jauh lebih komprehensif dibanding sekadar memperbaiki tampilan antarmuka. Instansi besar merasakan perubahan pada tingkat operasional, adopsi pengguna, hingga efisiensi implementasi.

Setelah proses empathize dan define, banyak friksi yang dianggap wajar mulai terlihat jelas. Alur yang tadinya panjang dapat dipangkas menjadi sederhana. Pengguna merasa platformnya “lebih cepat, tidak ribet,” dan mau kembali menggunakannya tanpa perlu edukasi berlebihan.

Melalui prototyping dan UX pilot, revisi besar hampir hilang. Timeline lebih stabil dan biaya teknis lebih mudah dikontrol. Banyak instansi awalnya menganggap "tambah fitur = solusi," tetapi design thinking membuktikan sebaliknya: efisiensi dan relevansi adalah kunci. Keseluruhan dampak ini menghasilkan platform loyalti yang bukan hanya berfungsi secara teknis, tetapi benar-benar dipakai bukan sekadar proyek digital yang selesai dibangun tetapi jarang disentuh pengguna.

Banyak instansi kini mulai mengadopsi design thinking karena mereka sadar bahwa keberhasilan platform loyalti tidak ditentukan oleh banyaknya fitur, melainkan kemudahan penggunaannya. Design thinking dan UX pilot memastikan sistem tidak hanya terlihat modern, tetapi juga benar-benar bermanfaat.

Jika instansi Anda ingin membangun sistem loyalty yang benar-benar dipakai pengguna bukan sekadar tampilannya saja, Blangkon Digital siap membantu menghadirkan proses yang jelas, terstruktur, dan UX yang matang sejak tahap awal.

💬 Ingin konsultasi gratis dengan Blangkon Digital?
Silakan hubungi melalui halaman kontak resmi dan mulai bangun platform loyalty yang lebih cerdas, efisien, dan mudah diadopsi pengguna.